News

Mengubah Tatanan Dunia Teknologi Melalui Blockchain



Penemuan bitcoin pada tahun 2010 oleh seorang figur misterius bernama samaran “Satoshi Nakamoto” memicu revolusi teknologi yang merangsang kemunculan “mata uang” serupa. Populer dikenal sebagai “cryptocurrencies” (kita sebut saja mata uang digital), koin digital ini tidak dicemaskan dengan beragam persoalan yang dihadapi mata uang konvensional atau fiat seperti aturan moneter yang berubah-ubah dan potensi korupsi yang dilakukan lembaga bank atau pemerintah.

Bermula dari koin yang nilainya kurang dari satu sen, secara kolektif nilai mata uang digital kini mencapai setengah triliun dollar dalam kurun waktu kurang dari tujuh tahun.

Tidak mengherankan memang bahwa obrolan apa pun tentang “blockchain” – teknologi terdesentralisasi yang mencegah mata uang digital dikuasai satu entitas tunggal – memicu gagasan perekonomian “emas digital” yang menjadi ancaman bagi lembaga moneter yang telah mapan dan memberikan akses sistem dan layanan keuangan yang mudah bagi siapa pun yang memiliki perangkat computer.

Photo Credit: 123RF

Namun, Long Vuong, pendiri dan CEO platform blockchain TomoChain, menganggap bahwa teknoloigi baru ini berpotensi tidak saja mengubah tatanan industry keuangan tetapi juga teknologi dalam lingkup yang lebih luas.

Penetrasi ke industri

Vuong mengenal blockchain untuk pertama kalinya tahun 2013, saat menyelesaikan gelar doktor bidang ekonomi di University of Massachusetts. Dia takjub dengan potensi penerapan teknologi tersebut di luar mata uang digital.

“Saya melihat sesuatu yang lain dari blockchain dan mata uang digital,” katanya. “Model teknologi ini memungkinkan kita untuk menggunakan token dan menciptakan aplikasi blockchain, yang jauh lebih menarik daripada sekadar berfungsi sebagai mata uang digital seperti bitcoin.”

Aplikasi terdesentralisasi ini, lebih dikenal sebagai DApps, menggunakan jaringan yang saling berbagi (peer-to-peer) melalui protocol yang trustless. Aplikasi ini dirancang sedemikian rupa untuk menghindari kesalahan dan biasanya memberikan pengguna imbalan berupa token atas jasa penyediaan komputasi ke sistem tersebut.

Ketertarikan Vuong terhadap industri blockchain mendorong dia untuk mendirikan platform mata uang digital NEM Blockchain pada tahun 2014, ketika dia mengepalai tim perancang perangkat lunak untuk membuat bitcoin alternatif dari nol.

Vuong akhirnya mengundurkan diri pada tahun yang sama untuk menyelesaikan penelitian doktoralnya dan bergabung dengan sebuah usaha rintisan e-dagang yang bermarkas di Hanoi pada tahun 2015. Kekaguman Vuong untuk menciptakan platform blockchain bagi para pengembang DApp pada gilirannya mendorong dia untuk mendirikan TomoChain pada akhir tahun 2016.

Photo Credit: TomoChain

Membangun Blockchain Ethereum

Alih-alih menciptakan mata uang digital untuk mengganti uang fiat, Vuong memutuskan untuk merancang platform yang memungkinkan pengembang di mana pun untuk mengakses infrastruktur global sehingga membuka peluang yang lebih luas.

“Kami mendukung perekonomian global di mana semua orang bisa bergabung dan memiliki kesempatan yang sama. Jadi, bukan lagi orang-orang di Silicon Valley yang membangun teknologi bagi dunia melainkan mereka yang berada di Asia, Asia Tenggara, dan Vietnam sama-sama membangun sesuatu bagi pasar global,” tambahnya.

Untuk menerapkan hal ini, tim TomoChain pada awalnya ingin membuat blockchain Ethereum, tetapi menemui persoalan yakni bagaimana membuat platform yang mainstream dan bisa diakses oleh sebagian besar pengguna.

Seperti yang dijelaskan Vuong, “Mencatat satu transaksi ibarat mengirim sebuah pesan – harus cepat dan semurah mungkin. Ethereum tidak memiliki kedua aspek ini pada tahun 2017, dan hingga sekarang pun belum.”

Hal ini mendorong Vuong untuk membuat sistem blockchain yang lebih baik yang masih mempertahankan aspek-aspek yang ada di dalam Ethereum. Platform ini memungkinkan para pengguna untuk secara lebih efisien menciptakan DApps yang lebih stabil dan aman serta mudah diukur.

Melawan Stigma Teknologi Blockchain

Akan tetapi, mendirikan usaha rintisan bukanlah tanpa hambatan – “awalnya kami harus mencoba-coba,” kata Vuong. Bagi TomoChain, mendiferensiasikan layanan inti menjadi salah satu upaya “coba-coba” ini. “Kami benar-benar tidak memiliki tujuan pasti hingga awal 2018 saat menemukan apa yang benar-benar kami inginkan.”

Vuong juga mengalami jatuh-bangun melawan stigma bahwa, seperti halnya teknologi yang baru lahir, blockchain memiliki penerapan amat terbatas di kehidupan riil. Bagi sebagian besar orang, termasuk juga investor TomoChain,”tidak mengetahui dengan pasti apa atau bagaimana blockchain akan berkembang dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun ke depan.”

Vuong juga memaparkan betapa melelahkannya menjelaskan kegunaan blockchain. “Apakah blockchain ini dibuat semata sebagai mata uang digital atau apakah blockchain ini merupakan sebuah platform terbuka untuk membuat produk keuangan? Anda perlu memiliki gagasan yang jelas mengenai platform yang ingin Anda bangun dan bagaimana platform ini menciptakan nilai bagi orang lain.”

Harapan Agar Diadopsi Secara Luas

TomoChain Team | Photo Credit: TomoChain

Di masa depan, Vuong berharap agar TomoChain bisa berperan sebagai penantang utama dalam penciptaan token dan pengembangan DApps.

“Kita seharusnya mampu membuat solusi skalabilitas dalam tiga hingga lima tahun ke depan. Hal ini akan memungkinkan blockchain untuk menghimpun 30.000 hingga 40.000 transaksi per detik, setara dengan yang dilakukan Visa saat ini,” kata Vuong sembari menyebutkan raksasa layanan keuangan dari AS tersebut.

Pada kurun waktu ini, Vuong memperkirakan “20 persen populasi akan memiliki dompet mata uang digital.”

“Ini berarti bahwa kita bisa membangun sistem keuangan baru yang benar-benar lepas dari sistem perbankan dalam waktu satu dekade ke depan, sehingga orang-orang bisa menggunakan mata uang digital seperti Bitcoin, Ether, dan Tomo untuk bertransaksi tanpa harus menggunakan sistem perbankan.”

Infrastruktur demikian bisa membuka kesempatan bagi banyak hal lain yang ditenagai oleh blockchain seperti pinjaman peer-to-peer dan investasi otomatis, kata Vuong.

Rencana untuk mencapai sasaran jangka panjang ini telah digagas seiring dengan upaya riset dan pengembangan yang dilakukan tim TomoChain. Perusahaan ini juga menjalin kemitraan dengan berbagai perusahaan yang membantu DApps untuk menambal kesenjangan pasar di beberapa sektor.

“Landasan idenya adalah bahwa usaha rintisan dan perusahaan di beragam industri akan memiliki banyak wawasan yang bisa dipadukan dengan teknologi blockchain untuk membuat sesuatu yang benar-benar baru,” Vuong menambahkan. “Menurut saya inilah visi yang sedang kami wujudkan sekarang.”

TomoChain merupakan blockchain public yang memungkinkan pengembang untuk menciptakan aplilkasi terdesentralisasi agar dapat diadopsi secara global.

Untuk mengetahui lebih lanjut atau menjalin kemitraan bisnis, kunjungi laman TomoChain.

Sumber: https://www.techinasia.com/aiming-revolutionize-tech-scene-blockchain-technology

Oleh: Nathaniel Fetalvero